Moderasi Islam Rahmat Bagi Semesta

Islam dan Revolusi Industri 4.0
7 Desember 2019
Menghidupkan Hati
7 Desember 2019

Moderasi Islam Rahmat Bagi Semesta

Moderasi Islam Rahmat Bagi Semesta

Adalah suatu yang niscaya bahwa ummat ini harus memposisikan diri sebagai umat yang menawarkan middle way  bagi semua urusan manusia, yakni jalan lurus (ash-shiratal al-mustaqim) yang jauh dari ekstrimisme itu. Ummat Islam dengan segala potensi ajarannya yang mengagungkan dan menjunjung tinggi moderasi adalah satu ummat yang saat ini sedang ditunggu perannya di pentas dunia di pelataran peradaban mereka. Ummat Islam diharapkan memberikan kontribusi positif dalam memberikan solusi terhadap kerumitan kemanusiaan yang saat ini sedang menggelinding liar bagaikan bola salju.

Peran besar mereka dalam sejarah perjalanan umat manusia memang telah terbukti dan telah menjadi legenda yang paling diminati oleh sejarawan dunia. Tidak ada seorangpun yang bisa mengelak dan tidak mengakui bahwa ummat Islam telah memberikan sumbangan besar terhadap perjalanan damai kemanusiaan. Sumbangan itu mereka berikan di lapangan politik, ekonomi, budaya, peradaban, ilmu pengetahuan dan sains dengan format yang demikian mengagumkan.

Ummat Islam telah membuktikan bahwa kandungan ajaran yang ada dalam Kitab Suci mereka (Al-Quran) telah menjadi guideline yang luar biasa untuk menata dan meniti kehidupan yang lebih baik dan bermakna. Hadits-hadits Rasul telah mampu memberikan inspirasi dan petunjuk yang membuat ummat ini senantiasa berjalan mantap menapakkan perannya di panggung dunia. Ummat Islam menjadi ummat paling dikagumi dan disegani dalam jangka waktu delapan abad lamanya. Ummat Islam saat itu menjadi “imam besar” peradaban yang menyajikan menu segar bagi kehidupan manusia.

Moderasi Islam telah melahirkan sebuah peradaban besar dengan spektrum yang luar biasa mencengangkan dunia. Kaidah-kaidah ajaran Islam yang menampilkan moderasi dalam formatnya yang paling indah telah menjadikannya sangat mudah diterima oleh setiap lapisan manusia.

Moderasi dalam Islam telah memberikan “jaminan” ruang hidup abadi pada ajaran agama ini hingga akhir zaman. Keajegan pokok dan kelenturan dalam cabang ajaran Islam, menjadikannya akan senantiasa mampu beradaptasi dengan situasi apapun di segala zaman dan waktu “shalehun li kulli zaman wa makan”. Ajaran-ajaran pokok yang ajeg (tsawabit) dan cabang-cabang yang fleksibel (murunah) telah memberikan ruang yang demikian lebar bagi adanya ijtihad dalam Islam sehingga bisa dipastikan ajaran ini tidak mengalami kejumudan.

Moderasi Islam yang “built in “ dalam dirinya ini Allah janjikan akan menjadikan agama ini menjadi lebih unggul atas agama manapun, dan atas ideologi apapun yang diproduksi oleh manusia. Allah berfirman :

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (At-Taubah : 33).

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (Al-Fath : 28).

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (Ash-Shaff : 9).

Allah dengan sangat gamblang “mengagendakan” ummat ini untuk menjadi ummat penengah, dengan bekal moderasi ajaran yang ada di dalamnya. Sebagaimana yang Allah firmankan :

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Al-Baqarah : 143).

Islam sangat menentang sikap anti-moderasi atau lebih tepatnya ekstremisme (ghuluw) dalam bentuk apapun. Sikap ghuluw akan menimbulkan dampak negatif dan ekses minus bagi individu, keluarga, masyarakat, negara, dan dunia. Sikap ekstrem dalam beragama juga akan memberikan dampak negatif terhadap agama itu sendiri dan akan menimbulkan bencana ke laur agama tadi. Ekstremisme (ghuluwisme) akan menyebabkan agama –dan biasanya dituduhkan kepada Islam—menjadi pihak tertuduh munculnya dis-harmoni di tengah-tengah masyarakat lokal dan internasional.

Ekstremisme adalah sikap anti-moderasi dan tidak memiliki tempat dalam norma, doktrin, wacana dan praktik Islam. Ektremisme adalah musuh bersama dan sangat ditentang oleh Islam. Sebagaimana yang Allah firmankan mengenai Ahli Kitab : Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar (An-Nisaa’ : 171) dan firman-Nya : Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Al-Maidah : 77).

Moderasi atau wasathiyah Islam inilah yang akan menjadi sajian dalam buku ini. Moderasi dengan wajahnya yang damai yang menebarkan rahmat pada semesta. Moderasi yang menawarkan kemanusiaan dalam format yang sebenarnya.

Tentang jalan tengah atau moderasi ini demikian berlimpah di dalam Al-Quran dan hadits Rasulullah. Moderasi Islam senantiasa menekankan keseimbangan antara dunia-akhirat, ruh-jasad, pikir-hati.

Ayat dan hadits –saya sebutkan sebagian saja— di bawah ini akan memperjelas kepada kita betapa moderasi itu menjadi substansi utama dalam ajaran Islam :

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash : 77).

Ayat tadi mengingatkan kita agar tidak terlalu cenderung pada salah satunya, baik kehidupan dunia ataupun akhirat. Sebab kecenderungan yang tidak moderat hanya akan mematikan bagian yang lain.

Ayat lain misalnya,

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian (Al-Furqan : 67).

Dengan gamblang Allah menekankan moderasi dalam pembelanjaan harta.

Hadits-hadits di bawah ini juga akan memberikan gambaran sangat jelas akan betapa moderatnya Rasulullah dalam praktek kehidupannya :

Orang yang terbaik diantara kalian bukanlah orang yang meninggalkan akhirat demi dunianya dan bukan pula yang meninggalkan dunia demi akhiratnya (HR. Ad-Dailami dan Ibnu Asakir).

Oleh sebab itulah sebab melarang hidup cara pendeta rahbaniyah karena itu sama artinya dengan meninggalkan dunia.

Sebaik-baik perkara adalah yang di tengah-tengah (HR. Baihaqi)

Sebaik-baik pekerjaan adalah yang pertengahan (HR. Ad-Dailami).

Buku ini lahir dari kesadaran untuk menampilkan Islam apa adanya (as it is) tanpa mengurangi dan menambahkan sesuatu apapun yang baru dalam hal ajarannya, norma dan doktrinnya. Islam yang diajarkan Al-Quran, dibimbingkan Rasulullah dan dipraktikkan para sahabat-sahabatnya. Islam yang menyejukkan dengan landasan moderasi yang kokoh dan ajeg dan semangat rahmatan lil’alamin.

Kami menyadari adanya perkembangan dan pertarungan pemikiran di dunia Islam yang senantiasa dinamis dan mengalami pasang surut bersamaan dengan makin meluasnya spektrum interaksi ajaran Islam dengan peradaban dan budaya lain di luar Islam. Dalam perkembangannya dinamisme pemikiran Islam ini sering kali mengalami benturan besar diantara pemikiran-pemikiran yang ada. Namun secara garis besar benturan pemikiran Islam itu terpolarisasi pada dua kutub pendekatan yang sama-sama ekstrim. Pertama, pendekatan pemikiran over-tekstualis yang tidak memberikan ruang sama sekali pada ranah ijtihad dan aktualisasi rasio sehingga menghasilkan kejumudan-kejumudan yang bahkan cenderung mengebiri rasionalitas sebagai karunia Allah yang besar. Kecenderungan pendekatan pemikiran over-tekstualis ini telah menyulitkan dinamisme-interaktif Islam dengan dunia yang terus berkembang dan modern. Dan tentu saja menjadi kendala bagi terlahirnya Islam yang sesuai untuk semua zaman dan tempat yang digerakkan oleh nilai-nilai moderasi. Pendekatan pemikiran Islam over-tekstualis ini akan melahirkan romantisme berlebihan pada masa lalu tanpa melihat realita masa kini serta akan memberikan citra buruk pada performance Islam yang sebenarnya dan memunculkan anggapan bahwa Islam tidak mampu beradaptasi dengan dinamisme zaman. Islam akan kehilangan spirit moderasinya yang menjadi ajaran abadi dalam dirinya.

Pengkebirian rasio dalam kadar yang over-dosis mematikan kreasi-kreasi ijtihad dan akan menenggelamkan kita dalam keheningan masa lalu yang gemerlap. Pendekatan pemikiran semacam ini, selain berbahaya juga akan menjadi ancaman sangat destruktif bagi dinamisme Islam dan kemampuan adaptatifnya terhadap modernisasi.

Pendekatan pemikiran kedua yang juga tak kalah ekstrim adalah pendekatan over-rasionalis. Pendekatan ini menempatkan rasio sebagai hakim terhadap teks-teks suci. Penggunaan rasio yang over-dosis ini akan berakibat pada pengebirian dan kenakalan-kenakalan rasionalitas terhadap teks. Pendekatan pemikiran ini berasal dari adanya upaya penyelarasan teks dengan dinamisme zaman dan perkembangannya yang demikian pesat. Hanya saja pendekatan yang dilakukan tidak lagi menjadikan teks sebagai sandaran awal. Sebaliknya rasiolah yang dijadikan tumpuan penetapan benar salahnya sebuah hukum. Dari rahim pendekatan pemikiran semacam ini telah melahirkan liberalisme pemikiran yang dahsyat yang sering kali bukan hanya tidak sesuai dengan teks namun juga berisi gugatan-gugatan. Liberalisme pemikiran ini berujung pada adanya ketidak percayaan bahwa teks-teks suci itu mampu mengakomodasi perkembangan dunia modern yang serba kompleks. Pendekatan semacam ini juga membahayakan Islam dan akan membuat Islam kehilangan orisinalitas (ashalah) nya dan pada saat yang sama akan melahirkan gelombang-gelombang gugatan terhadap teks.

Penempatan rasio sebagai hakim akan menjadikan Islam kehilangan sakralitas Kitab Suci-nya karena dia akan senantiasa diseret-seret untuk mengikuti pendekatan rasio. Teks-teks suci itu akan kehilangan kekudusannya saat dia diperkosa oleh rasionalitas. Dan Islam –dengan pendekatan pemikiran semacam ini—akan kehilangan segalanya.

Gejala semacam ini menyadarkan kami akan perlunya sebuah pemikiran yang mampu menjembatani dua kutub pendekatan pemikiran ekstrim ini secara benar dan proporsional agar Islam bisa terjaga orisinalitasnya dan sekaligus mampu beradaptasi dan mengakomodasi perkembangan zaman. Untuk menjembataninya diperlukan cara pendekaatan pemikiran moderat yang tetap saja menjadikan teks sebagai tumpuan awal namun sama sekali tidak menutup ruang bagi rasionalitas dan ijtihad. Tuntunan teks kita jadikan sebagai panduan awal dan jika tidak kita dapatkan dalam teks maka rasio kita beri peluang seluas-luasnya untuk menentukan ketetapan. Pemikiran semacam ini memiliki ciri-cirinya yang akan kami sebutkan kemudian.

Pendekatan pemikiran semacam ini akan menjadikan Islam tidak kehilangan jati dirinya dan pada saat yang sama akan mampu berinteraksi dan akomodatif dengan zaman.

(dikutip dari Mukadimah buku ‘Islam Moderat’ terbitan Pustaka Ikadi 2007)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TELEPHONE