Tafsir Surah At-Taubah Ayat 105: Hakikat Kerja dalam Pandangan Islam

Sukses Hidup berawal dari Perbaiki Shalat
11 April 2022

Tafsir Surah At-Taubah Ayat 105: Hakikat Kerja dalam Pandangan Islam

Bekerja sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup ini. Mengutip perkataan Nurcholish Madjid dalam karyanya Tafsir Islam Perihal Etos Kerja bahwa kerja atau amal adalah hakikat keberadaan (mode of existence) manusia. Artinya manusia ada karena kerja dan kerja itulah yang mengisi eksistensi kemanusiaannya. Dengan bekerja, orang-orang akan mengetahui siapa dirinya. Apakah seorang pedagang ataukah nelayan ataukah pengajar. Sebagaimana firman Allah pada Q.S. At-Taubah ayat 105:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitahukan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (Q.S. At-Taubah ayat 105).

Terma kerja pada ayat di atas diungkap lewat kata amal. Konsep amal adalah konsep yang amat luas. Kata ini juga dimaknai dengan perbuatan dalam pengertian yang umum dan luas. Kendati demikian, Jalaluddin Rahman dalam karyanya Konsep Perbuatan Manusia Menurut Al-Qur’an menyatakan kata amal pada umumnya berkenaan dengan persoalan-persoalan yang bersifat eskatologis atau keakhiratan. Tidak kalah menariknya, kata amal yang diartikan sebagai perbuatan yang menghendaki pelaku, ternyata pelakunya cukup beragam.

Di antara para pelaku kata amal itu antara lain; Allah Swt, malaikat, jin, setan dan manusia itu sendiri. Khusus yang disebut terakhir, kata amal yang pelakunya manusia disebut pada 312 ayat atau setidaknya manusia terlibat di dalamnya. Perbuatan-perbuatan itu mencakup kebaikan dan kejahatan. Perbuatan baik yang selalu dianjurkan disebut dengan salih (‘amil al-shalihat) dan perbuatan jelek yang diperintahkan untuk dijauhi diungkap dengan kata sayyi’at (‘amil al-sayyi’at).

Di sisi lain Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menuliskan bahwa ayat ini bermakna perintah untuk beramal saleh sebagai tindak lanjut dari ayat-ayat sebelumnya yang menganjurkan bertobat dan melakukan kegiatan nyata, antara lain membayar zakat dan bersedekah (Q.S. At-Taubah ayat 103-104). Kini mereka diminta untuk melakukan aneka aktivitas lain, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.

Setidaknya hal ini perlu, karena walaupun tobat telah diperoleh, tetapi waktu yang telah lalu dan yang pernah diisi dengan kedurhakaan, kini tidak mungkin kembali lagi. Manusia telah mengalami kerugian dengan berlalunya waktu itu tanpa diisi oleh kebajikan. Karena itu, ia perlu giat melakukan aneka kebajikan agar kerugian tidak terlalu besar.

Kendati manusia dianjurkan untuk melakukan aneka aktivitas lain setelah bertobat lalu membayar zakat dan sedekah, manusia juga harus mawas diri dan mengawasi amal-amalnya. Karena setiap amal yang baik dan buruk memiliki hakikat yang tidak dapat disembunyikan.

Muhammad Husein Al-Thabathaba’i dalam karyanya Al-Mizan Fi Tafsir Al-Qur’an menyatakan bahwa ayat di atas bermakna: “Wahai Muhammad, katakanlah atau lakukanlah apa yang kamu kehendaki—baik atau buruk—, karena Allah akan menyaksikan amal kamu dan disaksikan pula oleh Rasul dan kaum mukmin yang menjadi syuhada’ (saksi-saksi amal).

Dengan kata lain, amal apapun yang kamu kerjakan, baik atau buruk, maka hakikatnya (bukan lahirnya yang nyata di dunia ini) disaksikan oleh Allah yang Maha mengetahui yang ghaib dan yang nyata, yaitu menjadi saksi amal manusia, lalu kamu semua dikembalikan kepada Allah pada hari kemudian, dan ketika itu kamu mengetahui hakikat amal kamu.

Tak dapat dipungkiri bahwa kata amal memiliki makna yang luas sebagaimana telah disebutkan di atas sebelumnya. Azhari Akmal Tarigan dalam bukunya Tafsir Ayat-Ayat Ekonomi Al-Qur’an memberikan makna lebih luas dalam konteks amal. Kata amal mencakup segala aktivitas manusia yang bertujuan untuk menghasilkan barang atau jasa. Inilah yang disebut kerja dalam makna luas. Kerja itu sendiri bisa yang baik dan bisa yang buruk. Semuanya itu tidak tersembunyi bagi Allah dan juga bagi manusia pada umumnya. Orang yang bekerja dengan baik, profesional dan sempurna, maka ia akan memperoleh tidak hanya keuntungan material tetapi juga keuntungan spiritual. Bahkan ia memperoleh “nama” yang mengharumkan di tengah-tengah orang-orang yang menyaksikan pekerjaannya.

Di samping itu, makna lain yang dapat dikembangkan adalah kerja itu sesungguhnya upaya kemanusiaan kita untuk menunjukkan kualitas kita dihadapan Allah Swt. Orang yang bekerja pada bidang agama, harus menyadari bahwa ia sedang membangun image dan track record-nya dihadapan Allah dan juga di muka manusia. Oleh sebab itu, menjadi keniscayaan baginya untuk menunjukkan kerja yang baik dan menghindari diri dari hal-hal yang merusak namanya.

Dalam perspektif Islam, bekerja bukan sekadar untuk mengumpulkan harta. Tidak pula dalam jangka waktu yang pendek, namun lebih jauh lagi bahwa kerja dalam perspektif Islam memiliki jangka waktu yang cukup jauh, hatta yaumil Al-Qiyamah. Oleh sebab itu, poin penting yang harus dicatat adalah dampak kerja atau balasan kerja yang akan kita peroleh sangat tergantung dari apa dan bagaimana kita mengerjakannya.

Pekerjaan yang dilakukan dengan baik, akan menghasilkan kebaikan itu sendiri. Sebaliknya, pekerjaan yang buruk atau sesuatu yang dilakukan dengan cara yang buruk, akan berdampak buruk. Berkenaan dengan hal ini sangat tepat apa yang difirmankan Allah dalam suraا Al-Isra’ ayat 7 yang artinya, Jika kamu berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirimu dan apabila kamu berbuat buruk maka akibatnya juga akan  menimpamu.

Dari penjelasan tafsir At-Taubah ayat 105 di atas dapat dipahami bahwa kerja adalah suatu keniscayaan bagi manusia itu sendiri karena menyangkut eksistensi dirinya dalam hidup di dunia ini. Adapun setiap amal atau kerja akan selalu dalam pengetahuan Allah Swt dan para makluk ciptaannya tak terkecuali manusia itu sendiri. Sehingga secara otomatis baik atau buruk pekerjaan manusia akan ternilai dengan sendirinya dari dampak atau balasan kerja yang diperolehnya. Wallahu’alam bisshawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TELEPHONE