Tauhid Mahabbah: Skala Prioritas Antara Cinta Allah Dan Cinta Anak
27 April 2020
Kisah Sahabat Rasulullah SAW Cium Kepala Raja Romawi
27 April 2020

Yang Akan Terus Mengalir

Ustadzah Iis, Ketua PD Salimah Karanganyar

Saya mempunyai seorang teman perempuan. Ramah, cerdas, dan dermawati (lawannya dermawan). Banyak orang ramah, tak sedikit orang cerdas. Saya ingin menggarisbawahi yang dermawati saja. Agak susah cari yang seperti ini.

Apakah dia kaya? Bingung saya jawabnya. Kaya atau miskin relatif. Ada orang kaya merasa miskin, ada orang miskin berjiwa kaya. Apakah dia cukup? Kalau ini, saya rasa jawabnya iya. Setidaknya, dari pengamatan saya, dia tidak pernah mengeluh bokek.

Dari mana saya tahu kalau dia dermawati? Dari jarprinya. Kapan dia jarpri? Begitu saya bilang di grup yang saya pimpin bahwa kita butuh dana untuk kegiatan bla bla bla. Begitu segera, seperti tanpa mikir-sesuatu yang sering dilakukan oleh para perempuan kalau akan merogoh kocek untuk donasi.

Yap, sudah disepakati-entah oleh siapa- bahwa makhluk yang bernama perempuan itu untuk urusan duit terhitung disiplin, dibanding laki-laki tentu saja. Pelit? Saya rasa bukan. Hitung-hitungan lebih tepatnya.

Itu memang tuntutan tupoksinya.Jabatannya mentereng: manajer keuangan keluarga. Wajar kalau manajer harus pintar ngatur agar pemasukan dan pengeluaran seimbang. Kalau bisa: lebih. Jika pengaturan kacau, ambyar neracanya. Defisit.

Kapan gejala defisit muncul? Kalau si manajer tak bisa nge-rem keinganannya. Lihat segala macam iklan macam orang kelaparan. Sikat sana sikat sini. Order itu order ini. Tidak pakai mikir. Padahal bukan kebutuhan mendesak. Padahal tak punya pun tak apa-apa. Masih ada stock yang lama. Seperti kata lagu itu.

Nah, tiba giliran ada pengumuman donasi. Mikir-pakai lama. Si sulung mau bayar SPP, si tengah waktunya ganti seragam, si bungsu susunya habis. Masih sisa sedikit, OK bisa untuk donasi. Lumayan daripada tidak. Pas mau transfer, tetiba ingat sesuatu. Paket datanya habis. Batal transfer. Setan tepuk tangan.

Nah kembali ke teman saya tadi. Dia bukan tipe pemburu barang. Apalagi kolektor perhiasan. Tidak pernah nyetatus makanan di medsosnya. Apalagi posting makan-makan. Lewaaattt. Hidupnya sederhana saja. Tetapi untuk urusan donasi, dia tidak sederhana. Dia royal. Selalu ada alokasi, bukan jika ada sisa.

Bagaimana ibadah lainnya? Saya tidak tahu pasti. Bukan ranah saya. Tetapi gemar bersedekah telah menjadi amal unggulannya. Dan ini, pilihan tepat.

Berakhir pahala salat saat hidup tamat. Terhenti pahala tilawah saat mati. Hilang kesempatan raih pahala puasa saat nyawa melayang. Putus pahala berbakti saat nafas tak lagi berhembus. Tapi pahala bersedekah, tak kenal kata putus. Meski ruh di-PHK, bonus tetap masuk rekening amal. Pahala akan terus mengalir. Tak sirna meski nyawa telah tiada.

“Apabila meninggal Bani Adam, terputuslah amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya” (HR. Muslim No 1631)

2 Comments

  1. fatin berkata:

    Subhanallah…. Smoga kita para umahat bisa meneladani beliau….
    Terimakasih mbak Iis

  2. Edy+Legowo berkata:

    Patut dicontoh dlm hal besedekah, karena itu investasi akhirat, insyaAllah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TELEPHONE